Ressa Maafkan Aku
“Adikku… usap air matamu….
Kakakmu ini nggak tahan melihatmu, please
berhenti, Kakak kasih permen ya??” rayuan maut Chika ketika adiknya
menangis. Suara tangisan Ressa tak kunjung mereda, bujukan ,rayuan, dan
genjatan hadiah tak menghentikan
tangisan itu. Sampai-sampai
taring dan tanduk keluar dari mulut serta kepalanya.
“Akhirnya … berhenti juga
kamu dek…,” ujar Chika lega adiknya berhenti juga.
Hari ini hari yang melelahkan
bagi Chika (18 Tahun), Pagi hari ia harus bekerja sebagai buruh pabrik yang tak seberapa gajinya. Berangkat pukul
05.30 WIB dengan bis Curug[1] yang ugal-ugalan tak memperdulikan
keselamatan penumpangnya. Pagi itu
sebelum berangkat chika menitipkan adiknya pada
tetangganya. Yah..., beginilah hidup Chika semenjak Ayahnya meninggal
dan ibunya pergi menjadi TKW di Arab Saudi tuk menghidupi Chika dan Adiknya. Hm… benar tragis. Di
kardus yang dibentuk seperti rumah inilah menjadi tempat tinggal Chika selama
ini. Rumah tak punya apalagi barang berharga. Yang teristimewa baginya adalah
adik, serta ibunya yang jauh disana. Hanya sepucuk surat yang ia genggam dan
tak pernah ia telisik surat itu. Benar surat itu dari ibunya, ynag diberikannya
saat ibunya hendak pergi.
“Surat ini yang akan
menjadi semangatku untuk terus manjalani hidup ini , danterus berjuang untuk
membahagiakan adikku.” Doa Chika dan ia berharap semuanya bisa terwujud.
Derita Chika derita
yang pedih, perih. Angin topan, pancaroba kehidupan serta pil pahit
telah ia tegak selama 9 tahun terakhir ini. Yah waktu itu ibunya masih
bersamanya, jadi tidak terlalu pelik kehidupan ini. Dan waktu itu ia masih
bersekolah memakai seragam putih merahnya serta melangkah dengan gagahnya
dengan ribuan asa di benaknya. Biarpun hanya hanya sampai Sekolah Menengah Atas walau bisa merasakan
hingga kelas X saja. Namun, kobaran semangat itu masih membara dan nyala itu
semakin terang tatkala hadir tangisan bayi yang menghiasi rumah kardusnya.
Betapa berharganya Ressa,
tanpa adiknya itu, beban yang dipikulnya terasa berat. Untunglah ada Ressa di
sampingnya. Tangisan yang terkadang membuatnya jengkel, dan geram menjadi
sebuah memory tersendiri bagi Chika. Memory yang menemaninya dan memberikannya
semangat tuk menghantarkan cita-cita
Ressa (3 tahun). Semangatnya semakin menggebu-nggebu tatkala sosok wanita welas
asih itu, tak lagi mengirimi ia biaya hidup untuk adik dan dirinya. Entah
mengapa ibunya tak mengirim biaya hidup lagi, banyak sekali pertanyaan yang
timbul dibenak Chika, dari positive thinking sampai negative
thinking.
Semenjak itu pula hidup
Chika mulai terpontang panting, ia harus bekerja keras tuk membiayai kehidupan
sehari-hari dan mencukupi kebutuhan gizi bago adiknya. Umur yang belum cukup
matang bila memikirkan hal tersebu. Masa-masa suram mulang menghinggapi
kehidupan Chika. Hingga suatu hari ia harus meninggalkan adiknya Bertahun-tahun.
Bersua saja tidak bisa, apalagi membelai mesra Ressa. Dalam lubuk hati Chika
bak gado-gado, antara sedih, susah, senang, khawatir berkecamuk tidak menentu.
Sampai-sampai umur adiknya mencapai 17 ia menulis sebuah surat untuk Ressa.
“Dear Ressa,
Adikku sayang, adikku
malang maafkan Kakakmu ini dik, Kakakmu tak bisa menjagamu dengan baik, Kakakmu
merantau bukannya tidak mau mengasuh kamu, karena Kakak tidak tega jika nasib
kamu, Kakak tidak mau kamu mengalami nasib yang sama dengan Kakak. Kakak ingin
kamu menjadi pria yang memiliki dedikasi tinggi, bisa mendapatkan hidup yang
lebih baik, tidak seperti Kakak yang hanya lulusan SMA, sekali lagi Kakak
memohon maaf segala kesalahan Kakak, dan sampaikan ucapan terima kasih kepada
kedua orang tua yang mengasuhmu selama ini, Pak Surya dan Bu Surya, sampaikan
pula permintaan maaf dari Kakakmu ini.
Yang selalu
merindukanmu
Chika ”
Sampai
surat ini ditulis Chika tak sedikitpun membuka surat yang ditinggalkan ibunya
sebelum pergi. Tidak pernah, dan tidak pula ia menyentuhmya.

bagus ki.. tinggal di hiasi dikit lagi biar sempurna.
BalasHapus