Enter Header Image Headline Here

Senin, 15 Juli 2013

Jalanan Bukan berarti Rumah Terbaik



Lusuh, dan kurus. Apakah pernah membayangkan kapan mereka istirahat? Kapan juga mereka bersekolah? Terkadang kita juga bertanya, Dimanakah orang tua mereka? Tidakkah orang tua mereka memberinya uang saku sehingga mereka harus mengais bulatan logam yang dilempar oleh orang? Bahkan tidak ada yang menyangka kalau mereka dipaksa oleh orang tuanya.
            Begitu juga dengan kisah yang banyak terjadi di wilayah Semarang. Gedung-gedung pencakar langit, semakin hari semakin bertambah. Mengakibatkan ruang bernafaspun semakin sempit. Ruang gerak untuk bercocok tanampun tak menghasilkan uang. Hanya beton dan aspal yang tak mampu menghasilkan apa-apa.
            Akhirnya, merekapun bermain di jalan-jalan, yang sangat membahayakan mereka. Asyiknya bermain di jalan menjadikan jalan untuk tempat merebahkan tubuh hingga mengais sesuap nasi dari koin-koin yang orang lain anggap tidak berharga. Jika tak ada koin itu, mereka berjualan Koran dan menawarkannya dengan memelas.
            Di sini, ya di kota yang hampir banyak menjadi pusat tujuan. Jika kota pimpinan Jokowi dincar sebagai harta karun yang berimpah. Sedang kota pimpinan Eks Soemarmo pusat ‘bermain anak-anak’. Dengan kata lain, disinilah jalanan menjadi ruang permainan serta penindasan anak-anak. Penindasan yang mengakibatkan banyaknya anak tereksploitasi.
            Mata pejabat hanya mampu melihat dari kacamata. Dengan mata telanjang mereka tidak mampu melihat realita yang telah terjadi di depan mata, ya di kota dimana dia pimpin. Tahun 2009 lalu, anak jalanan di kota Semarang semakin meningkat. Penanggulangannya terus diakukan oleh pemerintah. Saat ini, pemerintah boleh bernafas lega terhadap anak-anak jalanan. Tahun ini, menurut surat kabar local, ditulis bahwa anak jalanan semakin menurun. Namun, belum diketahui apakah tahun depan meningkat atau tidak.
            Keberadaannya terkadang diabaikan. Padahal adanya mereka perlu dikelola dengan baik. Bahkan mereka perlu diberi pengertian tentang bahaya hidup di jalanan. Namun, kenyataannya sekarang ini, bak angin yang berhembus, tak ada solusi konkrit yang mampu mengatasi membludaknya anak jalanan di wialayah kota Semarang.
            Sorot lampu merah menandakan sirene bahwa uang akan mereka dapatkan. Mereka berbondong-bondong seolah akan mendapatkan hujan emas dari mesin-mesin mewah yang ditunggangi para punggawa-punggawa yang mengelola uang rakyat. Ironi negeri yang tak pernah tuntas, bahkan tertutupi oleh ulah-ulah tikus rakus di gedung senayan.
            Kaki-kaki mungil itu, tak pernah lelah mengejar. Tangan kecil yang terus menengadah memohon belas kasih dari nyawa-nyawa yang lewat di depan pelupuk mata. Sengatan mentari kala siang tidak mereka hiraukan. Kulit hitam dan dekil malah menjadi peluru, untuk dijadikan amunisi dalam mendapatkan belas kasihan.
            Kepadatan yang sering terjadi dikota metropolis sering mengundang anak jalanan untuk mengais rezeki. Tak jarang banyak anak jalanan hasil dari penculikan, trafficking bahkan parahnya lagi mereka datang bukan karena paksaan, tetapi kemauan sendiri. Sungguh kenyamanan keluarga yang belum sepenuhnya memenuhi keinginan anak jalanan tersebut.
            Ditambah lagi, suasana metropolis yang lebih bebas daripada tanah rimbun pedesaan. Itulah yang mungkin jadi salah satu alasan mengapa mereka lebih memilih jalan untuk menuangkan ide kreatif mereka tanpa penolakan yang membuat gerah hati anak-anak jalanan tersebut. dalam lubuk hatinya mereka berkata, disinilah aku akan menuangkan cipta rasa, dan karsaku, dengan persetujuan ataupun penolakan tidak akan menggentarkan apa yang menjadi kemauanku.
            Sekilas apa yang mereka pikirkan terlalu fanatic, dan terkesan egois. Namun, disinilah mereka menunjukkan bahwa mereka itu ada. Mereka tidak hanya menjadi bayangan yang menyesaki jalanan. Negative belum tentu menjadi sebuah keburukan yang melanggar norma-norma serta aturan yang diterapkan.  Seolah anak jalanan adalah sampah yang harus disingkirkan atau perlu dimusnahkan. Nyatanya, tidak.
            Cobalah tengok dari sisi positifnya. Tak sedikit anak jalanan yang mampu berkreativitas. Membuat barang yang tidak berguna menjadi berguna. Seonggok sampah bila diolah mampu menjadi barang berguna dan mampu meningkatkan derajat kota bahkan Negara. Mengapa tidak?  jika anak-anak jalanan tersebut tidak dikucilkan dan terus dibina pastinya akan menjadi lebih baik. Setidaknya mereka yang putus sekolah akan mendapatkan ilmu. Ilmu tersebut akan membimbing mereka untuk meninggalkan jalanan.
            Memang sulit mengajak mereka meninggalkan jalanan. Karena mereka menganggap jalanan itu sebagai sarana, wadah, bahkan mediasi bagi mereka. Asumsi mereka muncul akibat dari ketidaknyamanan ketika mereka beraktivitas di rumah. Padahal rumah adalah tempat berlindung dari segala mara bahaya. Dibandingkan jalanan tidak ada artinya. Tapi beda jika dilihat dari kacamata anak jalanan. Mereka menganggap jalananlah yang melindungi mereka, mengerti mereka, memenuhi apa yang mereka mau.
            Solusi yang dapat dilaksanakan mungkin, mengumpulkan mereka dalam satu wadah. Bukan seperti panti asuhan akan tetapi seperti gubuk kreasi yang mamapu menampung aspirasi mereka. Serta mamapu mengarahkan mereka untuk tidak lagi menjamah jalanan yang tidak layak untuk menjadi temapt bernaung mereka. Serta di gubuk itu mereka mampu mengubah mindset mereka terhadap rumah tempat tinggal mereka dan dimana dia dilahirkan.            

ARTI SEBUAH KELAHIRAN



Kelahiran adalah
Sebuah nyayian bahagia
Melihat dunia penuh api membara
Riuh suara menggelegar di mana-mana
Memecah keheningan kala Senja

Kelahiran adalah Musim semi
Bunga bermekaran, memperindah bumi
Malam kelabu menjadi berseri
Burung – burung menari-nari
Diiringi sorot  sang Mentari

Kelahiran adalah Merdeka
Pejuang di depan Mata
Penjajah terpenjara
Rakyat-rakyat bersuka cita
Berpesta  menyambut  kebebasan

Kelahiran adalah Cahaya
Menerangi kegelapan masa
Mengubah perdaban dunia yang tertuntut oleh
Paradigma paradigma hina
Kelahiran adalah pembaharuan
Membuang segala kesakitan
Memusnahkan keharuan
Apalagi kegalauan
Hingga kekeliruan

Kelahiran adalah siang
Terang  benderang
Tak ada mendung menghadang
Hanya ada sang pejuang
Maupun  sorot lampu kala petang

 di muat di majalah Missi edisi 34

SEBAIT KATA RAYGA



            Pagi ini, aku bersepeda dengan Rossa. Mumpung hari ini, aku dan Rossa liburan sekolah. Jadi, kita memanfaatkan hari ini untuk berjalan-jalan, sebelum aku mengerjakan tugas. Aku senang sekali berteman dengan Rossa, ia anak yang manis dan baik. Rossa selalu membagi makanannya ketika istirahat.
            Rossa teman kecil aku.  Dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar ini aku satu kelas dan satu bangku dengan Rossa. Rambutnya selalu dikucir dua, dan berponi. Aku senang banget punya sahabat  seperti dia. Belajar, mengerjakan tugas selalu bersama. Kami adalah sahabat sejati.
            Sekarang aku dan Rossa sudah duduk di kelas tiga. Kami selalu duduk di bangku depan. Menurut kami, duduk di depan itu adalah keberuntungan. Karena bisa mendengarkan penjelasan guru lebih jelas. Dan tidak terhalang oleh kepala temen-temen.
            Bel istirahat berbunyi, seperti biasa aku dan Rossa menuju kantin. Rossa selalu menemaniku. Padahal dia sudah membawa bekal makanan dari mamanya.
            “Ray, kamu mau bolu ini?” Rossa menawarkan bekalnya.
            “Boleh, Cha. Mumpung makananku belum datang.” Jawabku.
            “Oke, ini.” sambil menyodorkan bolu Rossa tersenyum kepadaku.
            Namun, hari ini Rossa terlihat pucat dan kurang bersemangat. Tapi ia mencoba tidak menampakkannya padaku. Mungkin Rossa sedang Sakit.
            Akhirnya bel masuk berbunyi, waktunya kami masuk kelas.  Kami pun bergegas masuk kelas. Pelajaran kedua dimulai. Ya, pelajaran matematika. Aku tahu kalau Rossa tidak begitu faham dengan matematika. Ia sering bertanya kepadaku. Bagaimana caranya, dan beberapa materi yang terkadang belum ia fahami.
            “Ray, aku mau tanya dong, bagaimana sih caranya menghitung perkalian itu mudah?”tanya Rossa padaku.
            “Nih,” kusodorkan kertas yang berisi perkalian yang diberikan oleh kakakku
            “Apa ini?”
            “Itu, kertas yang telah mengajarkanku rumus berhitung, aku diberi oleh Kak Lulu.” Jawabku.
            “Gimana, kok angkanya hampir sama?” tanya Rossa lagi.
            “Begini, Bagian atas atau Vertikal ada angka satu sampai sepuluh, nah kamu tinggal liat angka di pinggir bagian bawah atau horizontal, nah hasil perkaliannya tinggal kamu urutkan missal, aku tunuk angka satu dikali lima, hasilnya lima…, mudah kan?”
            “Oh…, begitu ya… .” jawab Rossa sambil menganggukan kepalanya.
            “Mudah kan Cha?”
            “Iya Ray, makasih.”
            “Iya, sama-sama Cha.”
            Jam di tanganku menunjukkan pukul 12.00 waktu indonesia barat, waktunya pulang. Aku dan Rossa pulang dengan sepeda. Kami memang tidak senang jika diantar jemput oleh sopir seperti teman-teman yang lainnya. Kami senang bersepeda, walaupun cuaca hari ini sedikit panas.
            Tak perlu banyak waktu untuk samapai rumah. Aku dan Rossa hanya melewati lorong-lorong kampung menuju kompleks dimana kami tinggal. Rumahku  hanya tiga blok dari rumah Rossa. Mengapa kita selalu berangkat bareng. Namun, anehnya kita jarang bertengkar.
***
Pernah kita bertengkar. Itu gara-gara kita menemukan kucing di pinggir jalan. Kucing itu berbadan kurus, kucel, dan kakinya sedikit pincang karena terluka. Lalu aku mencoba menolong dan ingin memeliharanya. Tapi Rossa merasa jijik, tapi aku tetap ingin memeliharanya.
            “Ray, mengapa kamu ingin memelihara kucing ini?” tanya Rossa.
            “Kasihan Cha…, liat aja, kucel dan kurus gini. Apalagi kakinya. Kasihan tau.”
            “Kamu nggak jijik Ray?”
            “Ngapain jijik, toh ini buat membantu sesama makhluk.”
“Oh, iya juga sih.”
Rossa pun akhirnya setuju untuk memelihara kucing tersebut bersama. Sampai di rumahku, aku dan Rossa memandikan kucing yang aku beri nama ‘Saga’. Nama itu singkatan dari namaku dan nama Rossa. Setelah Saga mandi,  aku mengambilkannya makan. Ia begitu lahab, hingga tulang ikan di piring habis dimakannya.
Maklum Saga memang terlihat kelaparan. Tubuhnya yang kurus itu menandakan bahwa dia sudah tidak makan berbulan-bulan. Apalagi tubuhnya yang kumal pasti dia ditelantarkan. Aku dan Rossa sangat menyayangi Saga. Kemanapun kita pergi Saga selalu di ajak. Belajar dan membuat tugas kami ditemani Saga.
Sebelum berangkat dan sepulang sekolah kita selalu memberi makan Saga. Kami tak pernah melewatkannya sedetikpun untuk membelai lembut Saga. Hingga suatu ketika, aku harus pindah rumah. Karena pekerjaan ayahku. Aku menitipkan Saga ke Rossa. Aku sedih harus berpisah dengan Rossa. Tapi aku janji akan menemui Saga dan Rossa kelak aku berkesempatan ke tempat ini lagi.
Tak disangka pula, Rossa juga tak bisa merawat Saga lagi. ia mengirimkan surat kepadaku, bahwa ia meninggalkan  Saga karena mamanya alergi dengan kucing. Sayang sekali. Malang benar nasib Saga.
Aku terus berpikir,  bagaimana nasib Saga? Apakah ada yang memberinya Makan? Aku hampir tidak bisa tidur akibat memikirkan Saga. Apakah ia akn sekumal saat dulu aku temukan dia di pinggir jalan? Aku takut dengan kakinya yang belum sembuh benar. Saga aku merindukanmu.
***
“Ma, aku berangkat sekolah dulu ya?”
“Iya, hati-hati.”
Waktu aku membuka gerbang, aku melihat seekor kucing berjalan terseok-seok, kubertanya dalam hati, apa itu Saga. Jalannya seperti Saga. Dan ternyata benar itu Saga. Ia sedikit kurus. Aku berteriak. “Saga, Kemari, aku kangen kamu…” tanpa memperhatikan kanan kiri. Ketika hendak menghampiri Saga aku tertabrak oleh mobil box yang melaju kencang. Belum sempat aku bertemu Saga, ragaku tak mampu lagi menghampirinya.


Kamis, 11 Juli 2013

TIKUS DEMOKRASI





Memilih bukan berarti suka
Tak memilih bukan berarti tak suka,
Sebuah Demokrasi
Memilih dengan hati nurani
Bukan paksaan
Bukan juga hasil suapan
Nyawa-nyawa tergantung  karenanya
Ikatan kuat putus olehnya
Tengoklah diseberang sana
Tak peduli, tak acuh, tak behati
Euphoria semata
Kemenangan sekejap
Tak pernah berfikir
Tak pernah peduli
Kesakitan rakyat
Kebahagiaannya…..

Popular Posts

Recent Posts

Categories

Unordered List

Zawa Clocks Sumber : http://fatholthearseko.blogspot.com/2011/09/pasang-jam-mickey-mouse-di-blog.html#ixzz2HXe2rGXS

Text Widget

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Kaliwungu, Kendal, Indonesia
Pengalaman adalah guru terbaik

Followers


Tag Cloud

MENULIS MERUPAKAN SALAH SATU HOBI YANG TIDAK PERNAH AKU KETAHU. MENULIS PULA TELAH MELATIH DAYA INGATKU.. SO BEGITULAH PERTEMUANKU DENGAN MENULIS
Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info