Jalanan Bukan berarti Rumah Terbaik
Lusuh, dan
kurus. Apakah pernah membayangkan kapan mereka istirahat? Kapan juga mereka
bersekolah? Terkadang kita juga bertanya, Dimanakah orang tua mereka? Tidakkah
orang tua mereka memberinya uang saku sehingga mereka harus mengais bulatan
logam yang dilempar oleh orang? Bahkan tidak ada yang menyangka kalau mereka
dipaksa oleh orang tuanya.
Begitu
juga dengan kisah yang banyak terjadi di wilayah Semarang. Gedung-gedung
pencakar langit, semakin hari semakin bertambah. Mengakibatkan ruang
bernafaspun semakin sempit. Ruang gerak untuk bercocok tanampun tak
menghasilkan uang. Hanya beton dan aspal yang tak mampu menghasilkan apa-apa.
Akhirnya,
merekapun bermain di jalan-jalan, yang sangat membahayakan mereka. Asyiknya
bermain di jalan menjadikan jalan untuk tempat merebahkan tubuh hingga mengais sesuap
nasi dari koin-koin yang orang lain anggap tidak berharga. Jika tak ada koin
itu, mereka berjualan Koran dan menawarkannya dengan memelas.
Di
sini, ya di kota yang hampir banyak menjadi pusat tujuan. Jika kota pimpinan
Jokowi dincar sebagai harta karun yang berimpah. Sedang kota pimpinan Eks
Soemarmo pusat ‘bermain anak-anak’. Dengan kata lain, disinilah jalanan menjadi
ruang permainan serta penindasan anak-anak. Penindasan yang mengakibatkan
banyaknya anak tereksploitasi.
Mata
pejabat hanya mampu melihat dari kacamata. Dengan mata telanjang mereka tidak
mampu melihat realita yang telah terjadi di depan mata, ya di kota dimana dia
pimpin. Tahun 2009 lalu, anak jalanan di kota Semarang semakin meningkat.
Penanggulangannya terus diakukan oleh pemerintah. Saat ini, pemerintah boleh
bernafas lega terhadap anak-anak jalanan. Tahun ini, menurut surat kabar local,
ditulis bahwa anak jalanan semakin menurun. Namun, belum diketahui apakah tahun
depan meningkat atau tidak.
Keberadaannya
terkadang diabaikan. Padahal adanya mereka perlu dikelola dengan baik. Bahkan
mereka perlu diberi pengertian tentang bahaya hidup di jalanan. Namun,
kenyataannya sekarang ini, bak angin yang berhembus, tak ada solusi konkrit
yang mampu mengatasi membludaknya anak jalanan di wialayah kota
Semarang.
Sorot
lampu merah menandakan sirene bahwa uang akan mereka dapatkan. Mereka
berbondong-bondong seolah akan mendapatkan hujan emas dari mesin-mesin mewah
yang ditunggangi para punggawa-punggawa yang mengelola uang rakyat. Ironi
negeri yang tak pernah tuntas, bahkan tertutupi oleh ulah-ulah tikus rakus di
gedung senayan.
Kaki-kaki
mungil itu, tak pernah lelah mengejar. Tangan kecil yang terus menengadah
memohon belas kasih dari nyawa-nyawa yang lewat di depan pelupuk mata. Sengatan
mentari kala siang tidak mereka hiraukan. Kulit hitam dan dekil malah menjadi
peluru, untuk dijadikan amunisi dalam mendapatkan belas kasihan.
Kepadatan
yang sering terjadi dikota metropolis sering mengundang anak jalanan untuk
mengais rezeki. Tak jarang banyak anak jalanan hasil dari penculikan, trafficking
bahkan parahnya lagi mereka datang bukan karena paksaan, tetapi kemauan
sendiri. Sungguh kenyamanan keluarga yang belum sepenuhnya memenuhi keinginan
anak jalanan tersebut.
Ditambah
lagi, suasana metropolis yang lebih bebas daripada tanah rimbun pedesaan.
Itulah yang mungkin jadi salah satu alasan mengapa mereka lebih memilih jalan
untuk menuangkan ide kreatif mereka tanpa penolakan yang membuat gerah hati
anak-anak jalanan tersebut. dalam lubuk hatinya mereka berkata, disinilah aku
akan menuangkan cipta rasa, dan karsaku, dengan persetujuan ataupun penolakan
tidak akan menggentarkan apa yang menjadi kemauanku.
Sekilas
apa yang mereka pikirkan terlalu fanatic, dan terkesan egois. Namun, disinilah mereka
menunjukkan bahwa mereka itu ada. Mereka tidak hanya menjadi bayangan yang
menyesaki jalanan. Negative belum tentu menjadi sebuah keburukan yang melanggar
norma-norma serta aturan yang diterapkan.
Seolah anak jalanan adalah sampah yang harus disingkirkan atau perlu
dimusnahkan. Nyatanya, tidak.
Cobalah
tengok dari sisi positifnya. Tak sedikit anak jalanan yang mampu
berkreativitas. Membuat barang yang tidak berguna menjadi berguna. Seonggok
sampah bila diolah mampu menjadi barang berguna dan mampu meningkatkan derajat
kota bahkan Negara. Mengapa tidak? jika
anak-anak jalanan tersebut tidak dikucilkan dan terus dibina pastinya akan
menjadi lebih baik. Setidaknya mereka yang putus sekolah akan mendapatkan ilmu.
Ilmu tersebut akan membimbing mereka untuk meninggalkan jalanan.
Memang
sulit mengajak mereka meninggalkan jalanan. Karena mereka menganggap jalanan
itu sebagai sarana, wadah, bahkan mediasi bagi mereka. Asumsi mereka muncul
akibat dari ketidaknyamanan ketika mereka beraktivitas di rumah. Padahal rumah
adalah tempat berlindung dari segala mara bahaya. Dibandingkan jalanan tidak
ada artinya. Tapi beda jika dilihat dari kacamata anak jalanan. Mereka
menganggap jalananlah yang melindungi mereka, mengerti mereka, memenuhi apa
yang mereka mau.
Solusi
yang dapat dilaksanakan mungkin, mengumpulkan mereka dalam satu wadah. Bukan
seperti panti asuhan akan tetapi seperti gubuk kreasi yang mamapu menampung
aspirasi mereka. Serta mamapu mengarahkan mereka untuk tidak lagi menjamah
jalanan yang tidak layak untuk menjadi temapt bernaung mereka. Serta di gubuk
itu mereka mampu mengubah mindset mereka terhadap rumah tempat tinggal
mereka dan dimana dia dilahirkan.

0 komentar:
Posting Komentar