SEBAIT KATA RAYGA
Pagi ini, aku
bersepeda dengan Rossa. Mumpung hari ini, aku dan Rossa liburan sekolah. Jadi,
kita memanfaatkan hari ini untuk berjalan-jalan, sebelum aku mengerjakan tugas.
Aku senang sekali berteman dengan Rossa, ia anak yang manis dan baik. Rossa
selalu membagi makanannya ketika istirahat.
Rossa teman kecil
aku. Dari taman kanak-kanak hingga
sekolah dasar ini aku satu kelas dan satu bangku dengan Rossa. Rambutnya selalu
dikucir dua, dan berponi. Aku senang banget punya sahabat seperti dia. Belajar, mengerjakan tugas
selalu bersama. Kami adalah sahabat sejati.
Sekarang aku dan
Rossa sudah duduk di kelas tiga. Kami selalu duduk di bangku depan. Menurut
kami, duduk di depan itu adalah keberuntungan. Karena bisa mendengarkan
penjelasan guru lebih jelas. Dan tidak terhalang oleh kepala temen-temen.
Bel istirahat
berbunyi, seperti biasa aku dan Rossa menuju kantin. Rossa selalu menemaniku.
Padahal dia sudah membawa bekal makanan dari mamanya.
“Ray, kamu mau
bolu ini?” Rossa menawarkan bekalnya.
“Boleh, Cha.
Mumpung makananku belum datang.” Jawabku.
“Oke, ini.” sambil
menyodorkan bolu Rossa tersenyum kepadaku.
Namun, hari ini
Rossa terlihat pucat dan kurang bersemangat. Tapi ia mencoba tidak
menampakkannya padaku. Mungkin Rossa sedang Sakit.
Akhirnya bel masuk
berbunyi, waktunya kami masuk kelas. Kami
pun bergegas masuk kelas. Pelajaran kedua dimulai. Ya, pelajaran matematika.
Aku tahu kalau Rossa tidak begitu faham dengan matematika. Ia sering bertanya
kepadaku. Bagaimana caranya, dan beberapa materi yang terkadang belum ia
fahami.
“Ray, aku mau
tanya dong, bagaimana sih caranya menghitung perkalian itu mudah?”tanya Rossa
padaku.
“Nih,” kusodorkan
kertas yang berisi perkalian yang diberikan oleh kakakku
“Apa ini?”
“Itu, kertas yang
telah mengajarkanku rumus berhitung, aku diberi oleh Kak Lulu.” Jawabku.
“Gimana, kok
angkanya hampir sama?” tanya Rossa lagi.
“Begini, Bagian
atas atau Vertikal ada angka satu sampai sepuluh, nah kamu tinggal liat angka
di pinggir bagian bawah atau horizontal, nah hasil perkaliannya tinggal kamu
urutkan missal, aku tunuk angka satu dikali lima, hasilnya lima…, mudah kan?”
“Oh…, begitu ya…
.” jawab Rossa sambil menganggukan kepalanya.
“Mudah kan Cha?”
“Iya Ray, makasih.”
“Iya, sama-sama
Cha.”
Jam di tanganku
menunjukkan pukul 12.00 waktu indonesia barat, waktunya pulang. Aku dan Rossa
pulang dengan sepeda. Kami memang tidak senang jika diantar jemput oleh sopir
seperti teman-teman yang lainnya. Kami senang bersepeda, walaupun cuaca hari
ini sedikit panas.
Tak perlu banyak
waktu untuk samapai rumah. Aku dan Rossa hanya melewati lorong-lorong kampung
menuju kompleks dimana kami tinggal. Rumahku
hanya tiga blok dari rumah Rossa. Mengapa kita selalu berangkat bareng. Namun,
anehnya kita jarang bertengkar.
***
Pernah kita bertengkar. Itu gara-gara kita menemukan kucing di
pinggir jalan. Kucing itu berbadan kurus, kucel, dan kakinya sedikit pincang
karena terluka. Lalu aku mencoba menolong dan ingin memeliharanya. Tapi Rossa
merasa jijik, tapi aku tetap ingin memeliharanya.
“Ray, mengapa kamu
ingin memelihara kucing ini?” tanya Rossa.
“Kasihan Cha…,
liat aja, kucel dan kurus gini. Apalagi kakinya. Kasihan tau.”
“Kamu nggak jijik
Ray?”
“Ngapain jijik,
toh ini buat membantu sesama makhluk.”
“Oh, iya juga sih.”
Rossa pun akhirnya setuju untuk memelihara kucing tersebut bersama.
Sampai di rumahku, aku dan Rossa memandikan kucing yang aku beri nama ‘Saga’.
Nama itu singkatan dari namaku dan nama Rossa. Setelah Saga mandi, aku mengambilkannya makan. Ia begitu lahab,
hingga tulang ikan di piring habis dimakannya.
Maklum Saga memang terlihat kelaparan. Tubuhnya yang kurus itu
menandakan bahwa dia sudah tidak makan berbulan-bulan. Apalagi tubuhnya yang
kumal pasti dia ditelantarkan. Aku dan Rossa sangat menyayangi Saga. Kemanapun
kita pergi Saga selalu di ajak. Belajar dan membuat tugas kami ditemani Saga.
Sebelum berangkat dan sepulang sekolah kita selalu memberi makan
Saga. Kami tak pernah melewatkannya sedetikpun untuk membelai lembut Saga.
Hingga suatu ketika, aku harus pindah rumah. Karena pekerjaan ayahku. Aku
menitipkan Saga ke Rossa. Aku sedih harus berpisah dengan Rossa. Tapi aku janji
akan menemui Saga dan Rossa kelak aku berkesempatan ke tempat ini lagi.
Tak disangka pula, Rossa juga tak bisa merawat Saga lagi. ia
mengirimkan surat kepadaku, bahwa ia meninggalkan Saga karena mamanya alergi dengan kucing.
Sayang sekali. Malang benar nasib Saga.
Aku terus berpikir,
bagaimana nasib Saga? Apakah ada yang memberinya Makan? Aku hampir tidak
bisa tidur akibat memikirkan Saga. Apakah ia akn sekumal saat dulu aku temukan
dia di pinggir jalan? Aku takut dengan kakinya yang belum sembuh benar. Saga
aku merindukanmu.
***
“Ma, aku berangkat sekolah dulu ya?”
“Iya, hati-hati.”
Waktu aku membuka gerbang, aku melihat seekor kucing berjalan
terseok-seok, kubertanya dalam hati, apa itu Saga. Jalannya seperti Saga. Dan
ternyata benar itu Saga. Ia sedikit kurus. Aku berteriak. “Saga, Kemari, aku
kangen kamu…” tanpa memperhatikan kanan kiri. Ketika hendak menghampiri Saga
aku tertabrak oleh mobil box yang melaju kencang. Belum sempat aku bertemu
Saga, ragaku tak mampu lagi menghampirinya.


0 komentar:
Posting Komentar