Enter Header Image Headline Here

Senin, 15 Juli 2013

SEBAIT KATA RAYGA



            Pagi ini, aku bersepeda dengan Rossa. Mumpung hari ini, aku dan Rossa liburan sekolah. Jadi, kita memanfaatkan hari ini untuk berjalan-jalan, sebelum aku mengerjakan tugas. Aku senang sekali berteman dengan Rossa, ia anak yang manis dan baik. Rossa selalu membagi makanannya ketika istirahat.
            Rossa teman kecil aku.  Dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar ini aku satu kelas dan satu bangku dengan Rossa. Rambutnya selalu dikucir dua, dan berponi. Aku senang banget punya sahabat  seperti dia. Belajar, mengerjakan tugas selalu bersama. Kami adalah sahabat sejati.
            Sekarang aku dan Rossa sudah duduk di kelas tiga. Kami selalu duduk di bangku depan. Menurut kami, duduk di depan itu adalah keberuntungan. Karena bisa mendengarkan penjelasan guru lebih jelas. Dan tidak terhalang oleh kepala temen-temen.
            Bel istirahat berbunyi, seperti biasa aku dan Rossa menuju kantin. Rossa selalu menemaniku. Padahal dia sudah membawa bekal makanan dari mamanya.
            “Ray, kamu mau bolu ini?” Rossa menawarkan bekalnya.
            “Boleh, Cha. Mumpung makananku belum datang.” Jawabku.
            “Oke, ini.” sambil menyodorkan bolu Rossa tersenyum kepadaku.
            Namun, hari ini Rossa terlihat pucat dan kurang bersemangat. Tapi ia mencoba tidak menampakkannya padaku. Mungkin Rossa sedang Sakit.
            Akhirnya bel masuk berbunyi, waktunya kami masuk kelas.  Kami pun bergegas masuk kelas. Pelajaran kedua dimulai. Ya, pelajaran matematika. Aku tahu kalau Rossa tidak begitu faham dengan matematika. Ia sering bertanya kepadaku. Bagaimana caranya, dan beberapa materi yang terkadang belum ia fahami.
            “Ray, aku mau tanya dong, bagaimana sih caranya menghitung perkalian itu mudah?”tanya Rossa padaku.
            “Nih,” kusodorkan kertas yang berisi perkalian yang diberikan oleh kakakku
            “Apa ini?”
            “Itu, kertas yang telah mengajarkanku rumus berhitung, aku diberi oleh Kak Lulu.” Jawabku.
            “Gimana, kok angkanya hampir sama?” tanya Rossa lagi.
            “Begini, Bagian atas atau Vertikal ada angka satu sampai sepuluh, nah kamu tinggal liat angka di pinggir bagian bawah atau horizontal, nah hasil perkaliannya tinggal kamu urutkan missal, aku tunuk angka satu dikali lima, hasilnya lima…, mudah kan?”
            “Oh…, begitu ya… .” jawab Rossa sambil menganggukan kepalanya.
            “Mudah kan Cha?”
            “Iya Ray, makasih.”
            “Iya, sama-sama Cha.”
            Jam di tanganku menunjukkan pukul 12.00 waktu indonesia barat, waktunya pulang. Aku dan Rossa pulang dengan sepeda. Kami memang tidak senang jika diantar jemput oleh sopir seperti teman-teman yang lainnya. Kami senang bersepeda, walaupun cuaca hari ini sedikit panas.
            Tak perlu banyak waktu untuk samapai rumah. Aku dan Rossa hanya melewati lorong-lorong kampung menuju kompleks dimana kami tinggal. Rumahku  hanya tiga blok dari rumah Rossa. Mengapa kita selalu berangkat bareng. Namun, anehnya kita jarang bertengkar.
***
Pernah kita bertengkar. Itu gara-gara kita menemukan kucing di pinggir jalan. Kucing itu berbadan kurus, kucel, dan kakinya sedikit pincang karena terluka. Lalu aku mencoba menolong dan ingin memeliharanya. Tapi Rossa merasa jijik, tapi aku tetap ingin memeliharanya.
            “Ray, mengapa kamu ingin memelihara kucing ini?” tanya Rossa.
            “Kasihan Cha…, liat aja, kucel dan kurus gini. Apalagi kakinya. Kasihan tau.”
            “Kamu nggak jijik Ray?”
            “Ngapain jijik, toh ini buat membantu sesama makhluk.”
“Oh, iya juga sih.”
Rossa pun akhirnya setuju untuk memelihara kucing tersebut bersama. Sampai di rumahku, aku dan Rossa memandikan kucing yang aku beri nama ‘Saga’. Nama itu singkatan dari namaku dan nama Rossa. Setelah Saga mandi,  aku mengambilkannya makan. Ia begitu lahab, hingga tulang ikan di piring habis dimakannya.
Maklum Saga memang terlihat kelaparan. Tubuhnya yang kurus itu menandakan bahwa dia sudah tidak makan berbulan-bulan. Apalagi tubuhnya yang kumal pasti dia ditelantarkan. Aku dan Rossa sangat menyayangi Saga. Kemanapun kita pergi Saga selalu di ajak. Belajar dan membuat tugas kami ditemani Saga.
Sebelum berangkat dan sepulang sekolah kita selalu memberi makan Saga. Kami tak pernah melewatkannya sedetikpun untuk membelai lembut Saga. Hingga suatu ketika, aku harus pindah rumah. Karena pekerjaan ayahku. Aku menitipkan Saga ke Rossa. Aku sedih harus berpisah dengan Rossa. Tapi aku janji akan menemui Saga dan Rossa kelak aku berkesempatan ke tempat ini lagi.
Tak disangka pula, Rossa juga tak bisa merawat Saga lagi. ia mengirimkan surat kepadaku, bahwa ia meninggalkan  Saga karena mamanya alergi dengan kucing. Sayang sekali. Malang benar nasib Saga.
Aku terus berpikir,  bagaimana nasib Saga? Apakah ada yang memberinya Makan? Aku hampir tidak bisa tidur akibat memikirkan Saga. Apakah ia akn sekumal saat dulu aku temukan dia di pinggir jalan? Aku takut dengan kakinya yang belum sembuh benar. Saga aku merindukanmu.
***
“Ma, aku berangkat sekolah dulu ya?”
“Iya, hati-hati.”
Waktu aku membuka gerbang, aku melihat seekor kucing berjalan terseok-seok, kubertanya dalam hati, apa itu Saga. Jalannya seperti Saga. Dan ternyata benar itu Saga. Ia sedikit kurus. Aku berteriak. “Saga, Kemari, aku kangen kamu…” tanpa memperhatikan kanan kiri. Ketika hendak menghampiri Saga aku tertabrak oleh mobil box yang melaju kencang. Belum sempat aku bertemu Saga, ragaku tak mampu lagi menghampirinya.


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Recent Posts

Categories

Unordered List

Zawa Clocks Sumber : http://fatholthearseko.blogspot.com/2011/09/pasang-jam-mickey-mouse-di-blog.html#ixzz2HXe2rGXS

Text Widget

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Kaliwungu, Kendal, Indonesia
Pengalaman adalah guru terbaik

Followers


Tag Cloud

MENULIS MERUPAKAN SALAH SATU HOBI YANG TIDAK PERNAH AKU KETAHU. MENULIS PULA TELAH MELATIH DAYA INGATKU.. SO BEGITULAH PERTEMUANKU DENGAN MENULIS
Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info