SHADOW
“Tolong, biarkan aku disini. Pergilah, aku akan tetap disini.
Jangan paksa aku untuk ikut kamu. Jo…, tolong jangan paksa aku…, jangan…, jangan!”
Ungkap Tisa pada Jonathan
“Ayolah Sa… ikutlah denganku, jika kau ikut denganku, kita akan
menikmati bunga cinta Disana. Banyak cumbu-cumbu asmara, menikmati manisnya
madu-madu yang telah kita kumpulkan. Kamu telah menarikku tuk melepaskan panah
asmara. Engkau pula telah menaruh hatimu kepadaku.” Bujuk Jhonatan
“Jo, aku katakan sekali
lagi, tinggalkan aku disini, tinggalkan jo…. Memang kau yang telah mendapatkan
hatiku, engkau pula telah berhasil memanah hatiku. Tapi untuk kali ini, aku
tidak bisa ikut denganmu. Maafkan aku Jo… maaf.” Jawab Tisa
***
“Brukk…. Aduh!!!”
“ Tisa…. Kamu ngapain?” teriak ibu ketika ia melihatku jatuh dari
tempat tidur
“ Nggak ngapa-ngapain Bu.”
“Ya, sudah deh, buruan mandi.”
“Baik Bu….”
Pandanganku entah kemana semuanya, terlihat maya. tubuhku seakan
melayang-layang. masih terbawa mimpi semalam. Dadaku semakin sesak. Tak dapat
menghirup oksigen yang diberikan secara
cuma-cuma. Akan tetapi bunga tidur itu masih mengakar dalam saraf-saraf fikiranku.
Angin mana yang mengantarkan, apakah angin tropis ataukah angin
muson, pertanyaan it uterus berkutat dibenakku. Tak dapat kupungkiri aku terus
mengingatmu Jonathan…, salahkah diri ini jika terus mengingatmu? Lantunan
nada-nada indah selalu menghiasi hariku, namun…, itu tak mampu menghilangkan
bayangmu. Sehebat itukah dirimu yang mampu menaklukan hatiku?
“Arghhh, Tisa… sudahlah Jonathan sudah tiada…,” bentakku dalam hati
mengingatkan diriku bahwa penakluk hatiku sudah pergi ke Surga.
Mimpi itu suatu pertanda bahwa Kekasihku akan meninggalkanku
selamanya. Dia ingin mengajakkum namun, aku menolaknya. Mungkin pula Jonathan
tak mau kehilanganku. Terkadang aku
masih merasa kalau dia selalu menemaniku dalam setiap detik aktivitasku.
Ternyata mimpi kemarin itu membasahi luka yang telah lama mengering. Mungkin inikah
yang dinamakan cinta sejati? Setia[ hari aku hanya murung menyesali apa yang
sudah terlewati. Aku tak bisa melupakan
kamu Jonathan…. Aku ingin engkau kembali…. Hatiku berteriak dan meronta-ronta
tidak terima dengan kecelakaan itu.
***
Dipusaran ini aku hanya bisa memandangi batu nisanmu. Kuusap
lembut, kutaburi bunga tujuh rupa, kusirami wewangian menyan. Kupeluk dan
kuremas-remas tanah rumahmu. Semua ini
kulakukan karena kau rindu dengan canda tawamu. Engkau selalu membuatku tertawa
lepas. Namun sekarang aku kehilangan tawaku.
“Tisa… sudahlah jangan kau tangisi kepergian Jonathan… biarkanlah
Jonathan tenang disana” ucap Raisya menghiburku
“Aku belum sanggup, Re…, nggak sanggup….” Ujarku
“Ya sudah, tapi… kamu harus tegar, masih banyak orang menantikan
kedatanganmu dan senyumu Tis…”
“Iya, Re….”
“Ayo kita pulang?”
“Baiklah….”
***
Tisa
Jo…. Kamu
kembali? Aku rindu kamu Jo…. Andaikan aku punya sayap akan kukepakkan sayap ini
setiap hari agarku dapat menghampirimu. Aku ingin selalu dalam dekapmu Jo….
Sedetik kau tak disampingku semangatku
hilang seketika. Kau yang selalu
membuatku tersenyum, tertawa puas, bebandipundak hilang seketika.
Jonathan
Tisa
sayangku…. Iya aku kembali untukmu, aku
kembali untuk menghiburmu, aku juga rindu padamu. Aku ingin seklai selalu
disampingmu. Aku tak ingin berpisah darimu sedetikpun. Aku ingin selalu bersua
dengamu. Tisa….
“Tis…, lagi ngobrol sama siapa kamu?” Tanya Raisya kaget
Akupun terhenyak dan sosok Jonathan
hilang.
“Jonathan....” dengan tampang lugu aku menjawab.
“Mana Jonathan? Tisa, ingat Jonathan udah nggak ada Sayang….”
“Tapi dia ada tadi disini, dia datang untukku… Re….”
“Aku sudah dari tadi dibelakangmu, aku perhatikan kau tersenyum
sendiri dan mengobrol sendiri.”
“Masak sih Re? tadi aku ngobrol sama ….”
“Ya sudah….”
***
Seminggu sudah Jonathan
pergi, bayangmu masih menggelayut di otakku. Menusuk setiap tulang rusukku. Aku
belum bisa menghilangkan bayang Jonathan. Dan aku masih menginginkan Jonathan…
masih…. Dan masih….
Setiap hembusan nafas,
tetesan darah yang mengalir, hanya Jonathan dan Jonathan. Rinduku tak dapat aku
bendung walau setiap hari kukunjungi Rumah terakhirnya.
Terik mentari
yang menyengat tak pernah kurasalkan saat aku bersama Jonathan, Jhonatan bagiku melebihi malaikat.
Dia begitu perhatian dan mengerti apa yang aku mau. Dia mengerti semuanya. Idia
begitu menyejukkan ketika kemarau, dan menghangatkan tatkala penghujan.
Apakah aku
terkena khayalan atau kah memang benar Jonathan masih mengikuti setiap gerak
gerikku? Entahlah….
***
cerpen ini di muat di buku Antologi bersama "PERMATA JIWA"

0 komentar:
Posting Komentar