Enter Header Image Headline Here

Senin, 01 April 2013

JILBAB TARA


Kiky Kikok
Petikan cinta Tara telah membekas dalam sanubari Pram. Laki-laki yang telah memanah hati Tara. Memang tak lama, namun sikap yang dilakukan gadis pujaannya itu telah meluberkan kebekuan hati Pram. Entah mengapa memori itu sulit sekali dihapuskan. Begitu besar gaung yang telah ditorehkan. Tara memang bukan gadis biasa, sifat dan cara berfikirnya jauh sekali dari usianya. Alur pikirnya lebih dewasa dari usia. Bukan pemikiran tentang sesuatu hal yang negatif akan tetapi hanya hal positif. Pria mana sih yang tidak larut dalam lontaran argumen Tara, termasuk Pram.
20 Oktober 2011
Hujan turun lebatnya, indra mata hanya bisa memandang satu meter saja, karena terhalang oleh derasnya air yang turun. Sosok gadis berjilbab besar turun dari angkot dengan  membawa payung berwarna biru, begitu anggun. Ia berlari kecil agar tak terkena rintikan air hujan. Walaupun membawa payung, tak ada perlindungan seratus persen. Gadis itu terus melangkahkan kakinya tuk menuju peraduan.
Tarrrr...” Suara petir menyambar diiringi kilatan cahaya 300 Km/jam.
Tak ada ragu pada diri Tara, ia terus melangkahkan kaki mungilnya yang ditutupi oleh rok panjang besar yang basah akibat terjangan hujan deras malam itu. Kurang 5 meter lagi, jauh memang tapi begitu dekat bagi Tara.
Sampailah, Tara di Gubug peraduan, mungil sempit, pengap dan terkadang air hujan merembes ke atap yang tak layak lagi sebagai atap. Namun, bagi Tara semua itu adalah surga di dunia. Surga yang tak dapat ditandingi oleh kemewahan dan kemegahan istana Barbie. Yah, Tara memang gadis sederhana, tidak neko-neko. Toh, banyak tawaran untuk memperbaiki rumahnya itu, tapi dia menolaknya, dengan alasan rumah ini adalah kenangan bersama kedua orang tuanya. Ayah ibu Tara telah meninggal satu tahun lalu akibat kecelakaan. Tara tidak menyangka orang yang disayanginya begitu cepat meninggalkannya. Kini, dia jadikan peristiwa itu sebagai bahan bakar yang akan membakar motivasinya untuk meraih apa yang mereka inginkan.
“Klek...klek”suara Tara membuka pintu rumahnya.
Tara langsung bergegas untuk mengganti bajunya yang basah kuyup. Air mata langit yang menetes begitu derasnya menjadikan malam–malam beku. Gelap langit detik ini tak hangat gelap malam menjadi kaku. Tara mencoba merebahkan tubuh mungilnya, akan tetapi matanya tak bisa terpejam. Tara memang tidak bisa tidur ketika hujan tiba. Dingin menusuk rapuhnya tulang Tara. Tak tahu sampai kapan sangkar emas ini akan mengurung Tara dalam kesedihan terdalam.
21 Oktober 2011 
Denting waktu fajar telah menyambut asa penantian Tara. Tepat 19 tahun yang lalu, dunia telah menyambutnya dengan suka cita. Gelak tawa bahagia menyambutnya. Namun, ada tangis harap mengiringi langkahnya. Buaian lembut tangan wanita yang berkorban untuk meregang nyawa untuk membawanya menyambut dunia. Hari–hari Tara penuh rasa suka cita walaupun tak banyak harta yang dimilikinya.
“Hari ini, aku kembali mengingat memoar masa lalu, saatnya aku untuk merenungi kembali apa yang telah aku lakukan.” Renungan hati Tara.
****
            25 Oktober 2011
Ditemani sinar mentari Tara menyusuri jalanan sepi, tanpa nyawa di sana, hanya Tara, malaikat, dan tuhan. Melangkah dengan tegap menuju gudang ilmu, di sanalah Tara bisa mencari kehangatan hati, dan kesejukan dalam pikirannya. Entah mengapa Tara bisa menghabiskan waktu cukup lama disana. Hingga ia tidak tahu bahwa, diam-diam Pram memperhatikan setiap gerak-gerik. Secara sembunyi-sembunyi dia juga memotret setiap tindakan Tara.
“Tara…. ” Sapa Pram
“Iya, Pram…, ada apa?”
“Tara, kamu hari ini ada kuliah nggak?”
Nggak ada, ada apa Pram?
Bagaimana kalau kita mengerjakan tugas kuliah kita?”
Baiklah Pram, jam berapa?”
Sekitar pukul tujuh malam, bagaimana?”
Mmm, baiklah.
***
Kali ini Tara merasakan hal yang belum pernah ia rasakan. Terlalu lugu dengan bait itu. Sampai-sampai dia terjerumus dalam madu-madu asmara.
“Tara, mau kemana?”
“Aku mau ke Perpus.”
“Oh, boleh ikut?”
“Ya boleh lah Pram, perpus kan bukan milik aku.”
“Hehe, kamu bisa juga ya bercanda.”
“Iya, dong.”
Tara belum pernah sebahagia ini. Tertawa lepas. Kehadiran Pram mampu memberikan warna hidupnya. Ya, pria itu telah mencuri hatinya. Namun tak berani dia lontarkan karena ketakutan.
***
Sebulan sudah Tara akrab dengan Pram. Kemanapun Pram pergi Tara selalu diajaknya. Dan kemana Tara pergi Pram mengikuti. Apakah ini yang dinamakan cinta sejati. Entahlah. Padahal sebelum bertemu dengan Pram, Tara selalu menutup diri. Berbicara saja jarang, waktu luang ia gunakan untuk membaca di perpustakaan kampus.
“Hai, Tar…” suara Pram berbisik.
“Hai juga,”
“Nanti malam ada acara tidak?”
“Mm, nggak ada.” Sambil membaca buku.
“Kalau begitu nanti malam datang ke taman ya?”
“Insya Allah…,”
“Baiklah aku tunggu.”
***
 Sesuai kesepakatan pagi hari tadi. Tara menemui Pram di Taman kota. Hingga ia bingung harus mengenakan baju yang mana. Seperti bukan Tara. Setiap hari tara selalu tampil apa adanya. Mengenakan kerudung berhias bros kupu-kupu dibagian kanan dadanya. Namun kali ini ia semangat sekali memilih-milih baju. Apakah ini menandakan virus cinta mulai menyebar  di Pikirannya.
Blouse batik bunga berwarna biru telah menghiasi tubuh Tara. Sepatu putih tak berjinjit mulai dikenakan Tara. Tak lupa hijab dengan bros kupu-kupu di dadanya. Dengan langkah layaknya prajurit perang yang akan menghadapi musuh. Cepat dan sigap. Tak sampai 20 menit ia sudah sampai di Taman kota.
Tara duduk di bangku dekat kolam air mancur. Ditemani sorot lampu taman. Sembari menunggu kedatangan Pram, ia menikmati suasana malam hari di kota. Tak lama Pram pun datang dan menepuk pundak Tara.
“Hai,” ucap Pram.
“Hai juga.”
“Sudah lama?”
“Nggak kok. Sebenarnya kamu mau bicara apa sih?”
“Mm, masalah tugas kemarin.”
“Oh, tentang tugas kemarin aku juga belum faham. Kamu bisa jelasin lagi nggak?”
“Ok, kita mulai ya.”
“Baiklah.”
***
Tara merasa tak puas bertemu Pram malam itu. Serasa ada yang disembunyikan oleh Pram. ‘Kapan ya cinta itu akan menjemputku?’ ucapnya dalam hati. ‘Apakah ku lepas hijabku ini?’ ‘Ah, hijab ini membuatku terlihat buruk’ Hati dan dan logika Tara bertolak belakang..
Demi cinta harus melepas hijab, untuk menarik perhatian. Apakah ini yang dinamakan cinta. Cinta yang membutakan segalanya, akan melakukan segalanya demi cinta. Haruskah cinta bersikap seperti itu. Persepsi cinta yang difikirkan oleh Tara. Tara membuka tumpukan buku dalam kardus di bawah tempat tidurnya. Ditulisnya alphabet demi alphabet hingga tercipta rangkaian kata yang menceritakan kisahnya, kisah kegalauannya. Seraya ia berkata dalam hati sembari memandangi jilbabnya. ‘Jilbabku, aku tak mampu meninggalkanmu, tapi aku juga tak bisa mendekat dengan Pram, jika ada kamu. Aku risau, aku gundah’.
Pipi Tara dibasahi hujan air mata. Bak air hujan dikala badai. Tara bersujud kepada pencipta segala pencipta, dia berdoa meminta petunjuk kepadaNya.
“Ya, Allah, ampunilah, dosa hambamu ini, hamba bingung, dengan kehidupan hamba sekarang ya Allah. Seruanmu telah ku jalani hingga saat ini, namun hamba bingung ya Allah antara gejolak jiwa dalam hati tentang pilihan. Berikanlah petunjukmu ya Allah. Jika dia terbaik untukku maka dekatkanlah ia denganku, jika tidak, jauhkanlah aku darinya, Amin.”
***
            Tidak terjadi apa-apa pada Tara. Pagi ini Tara bertemu dengan Pram diparkiran kampus.
            “Hai, Tara….” Sapa Pram
            “Halo, tapi alangkah lebih baik mengucapkan salam.” Jawab Tara.
            “Oh, iya.., hehehe.”
            “Ok, aku duluan ya? AssalamualaikumTanya Tara
            “Ya, baiklah Tara. Waalaikumsalam.”
            Dalam hati kegundahan kembali, apakah pertemuan tadi jawaban dari doanya ataukah hanya kejadian biasa. Semenjak Pram masuk dalam kehidupan Tara, ia menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Hidup sebatang kara di kota yang terkenal kejam ini, membuat Tara semakin tegar menjalani kehidupan.
            “Jika Pram benar ingin mengenalku lebih dalam, pastilah ia mampu menerima aku apa adanya. Jika tidak berarti hanya main-main saja. Akan ku pertahankan jilbabku yang telah menemaniku sedari kecilku. Terima kasih Ya Allah Engkau telah memberikan jawaban yang tepat untukku.” Ucap Tara dalam hati.
            Kiky kikok adalah nama Pena dari Rizki Agustya Putri, Mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Walisongo Semarang.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Recent Posts

Categories

Unordered List

Zawa Clocks Sumber : http://fatholthearseko.blogspot.com/2011/09/pasang-jam-mickey-mouse-di-blog.html#ixzz2HXe2rGXS

Text Widget

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Kaliwungu, Kendal, Indonesia
Pengalaman adalah guru terbaik

Followers


Tag Cloud

MENULIS MERUPAKAN SALAH SATU HOBI YANG TIDAK PERNAH AKU KETAHU. MENULIS PULA TELAH MELATIH DAYA INGATKU.. SO BEGITULAH PERTEMUANKU DENGAN MENULIS
Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info