Perih Cinta Sesaat
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak mau merajut
cinta dengan seorang laki-laki sebelum aku bekerja. Aku juga telah berkata
kepada Bundaku kalau aku tidak akan memiliki seorang pacar sebelum aku
mempunyai pekerjaan. Di bulan Maret kemarin, seorang laki-laki mencoba
mendekatiku. Bermula dari jejaring sosial. Selidik punya selidik setelah
melalui pendekatan selam satu bulan, baru aku ketahui ternyata dia adalah kakak
kelasku semasa SMA dulu.
Hubungan ini, terus
berlanjut hingga aku dan dirinya sebut saja namanya Desta. Lelaki yang untuk
pertama kalinya mengambil hatiku. Kelucuannya, tingkahnya yang menggemaskan
serta mampu memberikan warna setiap kata-kataku, sehingga aku bertekuk lutut
terhadapnya dan perjanjianku roboh, layaknya rumah yang pondasinya kurang kuat.
Aku menyanyanginya sepenuh hati. Sampai aku mengorbankan kepercayaan Bundaku
terhadapku. Ya, aku rela berbohong demi Desta
Setiap hari Desta
mengirimkan pesan singkat yang membuatku tertawa. Tak hanya itu, perhatiannya
terhadapku membuat hari-hariku yang sepi menjadi ramai. Ketika itu aku begitu
merasakan betapa indahnya jatuh cinta. Hati ini seperti musim semi di Jepang
penuh bunga sakura yang gugur dengan indahnya. Aku hanya bisa membalas pesan singkat
dengan sebuah senyuman.
Lewat pesan
singkat Desta mengiriirmkan kata-kata yang maknanya tersembunyi mengabarkan
kepadaku bahwa dia mengingkan seseorang tuk mengisi kekosongan hati. Sontak aku
bertanya-tanya, apakah ini benar ia membbutuhkan hati tuk mengisi hatinya.
Seminggu setelah
ia mengirimkan kata tersebut, kita bertemu saat
aku selesai mengikuti istighosah bulanan di pondok dekat rumahku. Aku
dan Desta sebelumnya telah sepakat bahwa kita akan bertemu disana. Namun,
setelah aku tunggu beberapa lama, dia pun tidak nampak. Kemudian dia
mengirimkan pesan singkat bahwa dia telah mennungguku di angkringan dekat pohon
cemara. Kemudian aku menuju angkringan tersebut. dan disanalah kita bertemu.
Hanya pembicaraan
yang singkat, dan ia menanyakan, apa jawaban yang akan aku berikan kepadanya.
Apakah aku menerimanya atau tidak. Aku akan memberikan jawaban jika dia mau
menyatakan perasaanya terhadapku didepan mukaku. Dan Destapun mengatakannya
didepan mataku. Tapi aku menunda jawaban
itu, aku mengatakan lepadanya , aku kan memberinya jawaban secepatnya.
Kemudian aku
pulang dengan kawanku. Sesampainya dirumah, dering pesan singkat dihandphoneku
berbunyi, telah kuduga bahwa pesan singkat itu berasal dari Desta. Laki-laki
yang telah merengkuh hatiku. Pesan itu berisi, bagaimana jawabannya. Iya tunggu
sebentar ya.
Tak selang berapa
lama, aku menjawab pertanyaannya dengan rangkaian puisi dan aku menjawabnya
iya, aku terima cintamu. Tepat empat bulan kita berkenalan 30 Juni 2012 aku
resmi menjadi pacarnya. Hariku semakin indah. Berangkat kuliah tak lagi susah
berdesakan di dalam Bis kota. Berboncengan mesra. Serasa dunia ini milik
berdua saja.
Malam minggu yang
biasanya kelabu, kini menjadi terang benderang hingga kupu-kupupun hinggap di
setiap detak jantungku. Aku sering bepergian di angkringan serta bermain
internet gratis disekitar area angkringan itu. Lokasinya tepat di sekolah kita
dahulu. SMA tercinta. Kami sering berselancar didunia maya. Apapun yang kumau
pasti dia turuti.
Sebulan sudah kita
lewati perjalanan cinta ini. Namun, tak semulus yang aku bayangkan. Keributan
kecil mulai muncul. Bermula dari aku yang sibuk dengan organisasi kampusku.
Pulang telampau sore, dimana Desta tak menyukainya. Hingga ia sedikit berubah
denganku. Dulu ia tidak pernah telepon aku tengah malam, kini ia sering telepon
aku tengah malam. Mengganggu tidurku juga tidur keluargaku. Ibuku terasa
terusik dengan itu semua. Caci maki tak luput dari hari-hariku.
Tiap malam ia terus menelponku, dari tengah
malam sampai dini hari. Dan akupun jatuh sakit. Lagi-lagi Bunda memarahiku.
Beliau mengatakan agar aku tak usah menggubris telepon darinya. Karena
sayangnya aku denganya, nasehat Bunda ku abaikan. Amarah Bunda semakin
meninggi, semakin tinggi pula ketidak pedulianku terhadapnya. Bunda diam aku
tambah diam. Tapi masih terbesit rasa bersalahku. Namun, rasa cintaku tak mampu
terkalahkan.
Tepat dini hari Desta telepon
aku. Mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku, ku sangat bahagia, dan kukira
masalah aku dan Desta selesai, ternyata
tidak. Kebahagian itu tak bertahan lama. Karena itu pula aku ditawari dua
pilihan yang mempertaruhkan harga diriku sebagai seorang wanita serta keduanya
tak menguntungkan bagiku. Saat itu pula aku memutuskan aku memilih salah satu
dari pilihan itu.
30 Agustus 2012
bertepatan pula dengan umurku ke- 19 tahun. Tepat pula dengan berakhirnya
hubunganku bersama Desta. Air mata mengalir dengan derasnya. Tak mampu
berhenti. Tak mampu berkata-kata. Saat itu pula nyawaku hilang, tak ada gairah
untuk beraktivitas. Ketika itu aku belum terima kalau hubungan ini berakhir
sampai disini. Hanya saja aku tak mampu mengungkapkan perasaan bahwa aku masih
mencintainya. Teman-teman yang selalu
menyangiku melakukan hal apapun untuk menghilangkan rasaku terhadapnya.
Akun jejaring
sosial di blokir olehnya. Siapa bilang akunku diblokir sehingga aku tidak bisa
mengawasinya?. Itu salah besar, jejaring sosial yang sangat canggih
memungkinkan penggunanya tidak hanya memiliki satu akun saja melainkan user
bisa memiliki dua bahkan lebih. Dengan akun jejaring lainnya aku memantau
aktivitasnya. Ketidak sanggupanku melupakannya membuat aku tak berdaya. Tidak
mampu berkonsentrasi di dalam kelas, nilaiku jatuh. Ternyata hal ini mampu
membangkitkan semangatku dan
menyadarkanku jika laki-laki itu tidak cuma satu. Masih banyak laki-laki yang
lebih baik darinya.
Sebulan setelah itu, ada seorang wanita yang mengirimkan message
kepadaku dan bertanya ada hubungan apa
aku dengan Desta, aku jawab kita tidak ada hubungan apa-apa. Kita sudah
putus. Sebelum wanita yang bernama Uci itu menanyakan, Desta mengirimkan pesan
lewat aku jejaring sosial Ucik yang berisi penghinaan terhadapku. Hatiku serasa
remuk dan tak terbayangkan lagi betapa sakitnya.
Lebih menyayat lagi, Ucik mengabarkan bahwa dia sudah berpacaran
dengan Desta setahun yang lalu. Lebih lama dariku, dan terlebih sebelum Desta
mengenalku. Aku kaget dan tidak menyangka bahwa Desta telah membohongiku. Aku
benci dan benci serasa oksigen tak mau masuk di hidungku. Seketika cintaku
musnah dan hancur berkeping-keping.
Penyesalanku mengakhiri hubungan ini hilang seketika. Tak ada
penyesalan lagi untuknya. Kekerasan yang dia lakukan terhadapku membuatku
trauma, dan berhati-hati dalam memilih seseorang. Kekecewaanku musnah, aku
mengikuti perkataan temanpteman yang menyanyangiku. Saat ini pula aku tersadar
bahwa perkataan orang tua itu benar adanya, Bunda, maafkan aku. Teruntuk Desta
semoga kau menyadariu bahwa sikapmu itu pengecut, semoga kau tak mengulanginya pada wanita
lain, cukup aku saja yang kau sakiti.


0 komentar:
Posting Komentar