Sinopsis
Tonijan, seorang anak berusia Sembilan tahun.biasa dipanggil
Toni. Memiliki watak pekerja keras, belas kasih. Namun, nasib yang ia terima
tidak seindah dunia fana ini. berperawakan kecil, hitam dan sedikit tidak
terurus.
Parmawati, ibu Toni, sekitar berumur empat puluh tahun.
Memiliki watak sefikit keras. Berperawakan sedang, kulit dekil. Sorot mata
tajam.
Tukija, ayah Toni. Pria berkumis tebal berumur empat puluh
lima tahun ini. dilihat dari wajahnya memang sedikit garang. Berperawakan
kurus, hitam dan sering sakit-sakitan. Pekerjaanya sebagai pemulung. Dengan
penghasilan yang pas-pasan dan cenderung tidak mencukupi.
Bu Murti, guru kelas Toni. Berperawkan tinggi agak sedikit
tambun. Tegas. Berumur 35 tahun. Kulit bersih.
SINOPSIS
Beban hidup dipudak tak menghentikan
langkah Toni menuju impian langit ke tujuh. Toni tak lelah mencari dan mencari.
Hanya satu yang dapat Toni temukan yaitu menjual keahliannya dalam bermusik,yah kata orang
menjual suara saja sudah biasa. Namun inilah dorongan hati untuk mencapai tiitk
klimaks.
Sengatan matahari, memacu adrenalin Toni
untuk terus berusaha. Toni hanyalah anak biasa, hidupku di gubuk sewaan,bukan
milik sendiri. Inilah nasib Toni, Tonijan ya, nama pemberian orang tuanya. Toni
hanya mampu menjual suara tepatnya mengamen. Setelah ia menjalani kewajibannya
menuntut ilmu di SD Karsono Mukti, satu-satunya SD dimana aku tinggal. Setiap
hari ia menjalani rutinitas sebagai pengamen dan pelajar.
Pendapatan tak menentu, hanya cukup untuk
membeli buku saja,padahal uang SPP harus ia lunasi. Suatu saat ia termangu
melihat saudara-saudaranya yang masih belia. Mereka tak tahu apa-apa. Toni merupakan
anak sulung dengan empat saudara yang tak dapat memberikan secuil kebahagiaan mereka.
Rasa iripun muncul, pada teman-temannya.
Kenapa ia dilahirkan seperti ini. Lamunan itu hanya ilusi saja baginya, iapun
terhenyak dan berkata” aku pasti bisa”
Hari hari setelah pulang sekolah, ia
sempatkan diri pergi ke kota. Sekadar mencari penghasilan untuk kelangsungan
pendidikannya. Walau mengamen, dari sinilah Toni bisa bersekolah. Orang tuanya
bekerja sebagai pemulung, tak sekolah, apa tahu tentang pendidikan, mereka
hanya tahu bagaimana mencari pekerjaan dan pekerjaan untuk bertahan hidup. Susahnya mengais bukan berarti tak bisa
mengais ilmu.
Tekad Toni sudah bulat, ia harus bisa
menyelesaikan tugasku sebagai pelajar, dengan cara apapun akan ia lakukan untuk
impian di ujung pelangi. Uang hasil mengamen, ia kumpulkan, sedikit demi
sedikt, seratus perak sangat berharga baginya. Karena ia bukanlah orang kaya,
tapi ia memiliki sesuatu yang jarang dimiliki orang lain. Apalah artinya uang
jika niat tak ada. Toni harus berjuang mati-matian demi hidup dan kelangsungan
pendidikannya.
Suara pas-pasan, memacu dentuman jantung
dalam raga. Petikan kentrung hasil karyanya, mengiringi lantunan lagu saat ia
berdendang. Sorot mata penumpang bis kota menikmati ketukan-ketukan nyanyiannya.
Kepenatan penumpang hilang seketika saat Toni melantunkan lagu syahdu. Kepingan
logam berharga mulai memasuki kantong plastik yang ia buat dari bekas bungkus
makanan ringan. Teman sejati pembantu Toni sekolah.
***
Detik-
detik terakhir ujian kenaikan kelas.
Selangkah lagi raport tergenggam ditangan. Saatnya ia membuktikan bahwa ia
pasti bisa. Ujian berlangsung hikmat. Tak ada beban dalam menyelesaikan
soal-soal ini. Toni yakin ia pasti yang terhebat walau ia hanya seorang anak
pemulung.
Seminggu ujian berlangsung, kini waktunya Toni
menerima hasil belajarnya. Debaran jantung menghiasi langkah Toni, raport sudah
ditangan, keringat dingin menetes ke sekujur tubuh. Gerakan jari perlahan
membuka kertas demi kertas itu. Seperti tersambar petir di siang bolong, Toni
terhenyak ternyata ia bintang kelas lagi. Inilah hidupku, perjuangan sampai
titik darah penghabisan.
TREATMENT
01.
EKS. KAMPUNG PEMULUNG/ PAGI
Suasana kumuh langsung
terlihat ketika cahaya matahari mulai menyorot perkampungan tersebut. Terlihat
warga kampung tengah berlalu lalang menjalani aktivitasnya. Terlihat sebuah
rumah dengan tumpukan rongsokan yang begitu banyak.
02.
INT. RUANG TAMU /SIANG
Terlihat Parmawati mulai
bersiap-siap mencari rongsokan. Sedang Tukija menghitung hasil pencariannya
kemarin untuk makan hari ini. sering kali terdengar tangis si bungsu. Sesekali
Toni menenangkan adik bungsunya. Setelah adiknya tenang baru ia mulai berangkat
sekolah dan tak lupa membawa kentrungnya.
03.
INT. RUANG KELAS/ PAGI
Bu
Murti mulai membahas pelajaran hari ini. Toni memasuki kelas dengan
tergopoh-gopoh. Menarik nafas panjang.
04.
INT. DALAM BIS/ SIANG
Suasana
panas membuat penumpang bis merasa kegerahan. Terlihat penumpang bis
mengipas-ngipas. Terdenggar teriakan kernet berteriak memanggil penumpang. Toni
mulai memainkan kentrungnya. Hingga dua sampai tiga lagu. Bis melaju.
05.
INT. DALAM BIS/ SORE
Terlihat
matahari beristirahat di ufuk barat. Tetapi Toni masih terus mendendangkan lagu
dengan iringan ketrung. Kali ini ia berganti bis. Dan turun dekat
perkampungannya.
06.
EKS. KAMPUNG KUMUH/ MALAM
Terlihat
Toni menuju rumahnya. Sambil menghitung recehan yang ia dapatkan hari ini.
Sedikit berbecek-becekan. Karena kampong itu habis diguyur hujan.
07.
INT. RUMAH TONI/ MALAM
Parmawati
terlihat kelelahan. Tukija memberikan hasil penjualannya kepada Parmawati.
Sedang Toni bermain dengan adik-adiknya.
08.
INT. RUANG KELAS/ PAGI
Toni
menjalani ujian. Toni mengerjakan ujiannya dengan serius. Sesekali ia memainkan pensilnya. Terlihat bu
Murti mengawasi dengan mimic muka tegang.
09.
INT. RUANG KELAS/ PAGI
Kelas sedikit tegang. Karena
pembagaian raport akan segera dimulai. Akhirnya raport pun dibagikan satu
persatu. Toni merasa gugup mengetahui hasil ujiannya. Kali ini raportnya
diambilkan oleh ibunya. Secara perlahan ibunya mulai membuka raport secara
perlahan. Dan Toni tersenyum bahagia.

0 komentar:
Posting Komentar